0


THUFAIL BIN AMR AD-DAUSY
“Lentera suku Daus”
(Sumber: Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, JILID 1)

THUFAIL bin Amr AD-Dausy adalah kepala kabilah Daus pada masa jahiliyah. Dia termasuk bangsawan Arab yang terpandang, seorang pemimpin yang memiliki kharisma serta kewibawaan yang tinggi dan diperhitungkan orang. Periuknya tidak pernah turun dari tungku. Pintu rumahnya tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang bertamu, melindungi orang yang sedang ketakutan dan membantu setiap penganggur.
Di samping itu, dia pujangga yang pintar dan cerdas, penyair yang tajam dan berperasaan halus. Selalu tanggap terhadap kenyataan-kenyataan yang manis dan yang pahit. Karya-karyanya mempesona bagaikan sihir.

Pada suatu ketika, thufail meninggalkan negrinya, tihmah (dataran rendah sepanjang laut merah) menuju Makkah. Waktu itu pertentangan antara Rasululloh shallallahu Alaihi wa sallam dengan kafir Quraisy semakin nyata. Masing-masing pihak berusaha memperoleh pengikut atau simpatisan guna memperkuat golongannya. Untuk itu, senjata Rasululloh shallallahu Alaihi wa sallam hanya berdo’a kepada Tuhannya,disertai iman dan kebenaran yang dibawanya. Sedangkan kaum kafir Quraisy menegakan impian mereka dengan kekuatan senjata,dan dengan segala macam cara untuk menghalangi orang banyak menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.
Thufail terlibat dalam kemelut ini tanpa disengaja, karena kedatangannya ke makkah itu bukan untuk melibatkan diri. Bahkan pertentangan antara Nabi Muhammad dengan kaum Quraisy belum pernah terlintas dalam pikirannya sebelum itu.

Dikirim pada 07 Desember 2011 di Tausiah


Tatkala kudatangi sebuah cermin
Tampak sesosok wajah
Yang telah kukenal dan sangat sering kulihat
Namun aneh, sesungguhnya,
Aku belum mengenal siapa yang kulihat

Tatkala kutatap wajah, hatiku bertanya
Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya,
Bersinar di Surga sana
Ataukah wajah ini yang akan hangus legam di Neraka jahanam

Tatkala kutatap mata, nanar hatiku bertanya
Mata inikah yang akan menatap penuh kelezatan dan kerinduan,
Menatap Allah, menatap rasulullah,
Menatap kekasih-kekasih Allah kelak
Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot,
Menganga raih menatap neraka jahanam
Akankah mata penuh maksiat ini akan menyelamatkan
Wahai mata, apa gerangan yang kau tatap selama ini

Tatkala kutatap mulut, apakah
Mulut ini Yang kelak akan mendesah penuh kerinduan,
Mengucap Laa iLaha Illalah
Saat sakaratul maut menjemput
Ataukah menjadi mulut menganga dengan lidah menjulur,
Dengan lengking jeritan pilu
Yang akan mencopot sendi-sendi setiap pendengar, Ataukah
Mulut ini akan menjadi pemakan buah zaqum jahanam,
Yang getir penghangus, penghancur setiap usus
Apakah gerangan yang engkau ucapkan, wahai mulut yang malang
Berapa banyak dusta yang engkau ucapkan, Berapa banyak
Hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam, Berapa banyak,
Berapa banyak kata-kata manis semanis madu,
Yang palsu, yang engkau ucapkan untuk menipu
Betapa jarang engkau jujur,
Betapa langkanya engkau syahdu memohon agar tuhan mengampunimu

Tatkala kutatap tubuhku, apakah
Tubuh ini kelak yang akan penuh cahaya,
Bersinar, bersuka cita, bercengkerama di surga, atau
Tubuh yang akan tercabik-cabik, hancur,
Mendidih di dalam lahar, membara,
Terpasung tanpa ampun, derita yang tak pernah berakhir
Wahai tubuh,
Berapa maksiat yang engkau lakukan, berapa banyak
Orang-orang yang kau dzalimi dengan tubuhmu
Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah,
Yang kau tindas dengan kekuatanmu
Berapa banyak perindu pertolongan yang engkau acuhkan tanpa perduli,
Padahal engkau mampu, Berapa banyak
Hak-hak yang kau rampas, wahai tubuh

Seperti apa gerangan isi hatimu
Apakah isi hatimu sebagus kata-katamu, atau
Sekotor daki-daki yang melekat di tubuhmu, Apakah
Hatimu segagah ototmu, atau
Selemah daun-daun yang mudah rontok
Apakah hatimu seindah penampilanmu, atau
Sebusuk kotoran-kotoranmu, Betapa beda,
Betapa beda apa yang tampak di cermin
Dengan apa yang tersembunyi

Aku,
Aku telah tertipu, aku tertipu oleh topeng
Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng,
Hanyalah topeng belaka
Betapa yang ujian terhambur hanyalah memuji topeng
Betapa yang indah hanyalah topeng
Sedangkan aku,
Hanya seonggok sampah busuk yang terbungkus
Aku tertipu, aku malu ya Allah,
aku Malu, Allah
Selamatkan aku ya Allah,
Allah, selamatkan aku, selamatkan aku
Amin ya rabbal ‘alamin



Ini puisinya Aa Gym. Yang mau denger versi mp3nya bisa klik di sini. Dijamin merinding plus ingat dosa-dosa kita yang buuaanyaknya minta ampun.

Dikirim pada 10 November 2011 di Tausiah


Ada seseorang yang rajin berdoa, minta sesuatu sama Allah. Orangnya sholeh. Ibadahnya baik. Tapi doa tak kunjung terkabul. Sebulan menunggu masih belum terkabul juga. Tetap dia berdoa. Tiga bulan juga belum. Tetap dia berdoa. Hingga hampir satu tahun doa yang ia panjatkan, belum terkabul juga. Dia melihat teman kantornya. Orangnya biasa saja. Tak istimewa. Sholat masih bolong-bolong.

Kelakuannya juga sering nggak beres, sering tipu-tipu, bohong sana-sini. Tapi anehnya, apa yang dia doain, semuanya dipenuhi. Orang sholeh ini pun heran. Akhirnya, dia pun dateng ke seorang ustadz. Ceritalah dia permasalahan yang sedang dihadapi. Tentang doanya yang sulit terkabul padahal dia taat, sedangkan temannya yang bandel, malah dapat apa yang dia inginkan.

Tersenyumlah ustadz ini. Bertanyalah si ustadz ke orang ini. Kalau Anda lagi duduk di warung, kemudian datang pengamen, tampilannya urakan, maen musiknya gak bener, suaranya fals, bagaimana? Orang sholeh tadi menjawab, segera saya kasih pak ustadz, gak nahan ngeliat dan ndengerin dia lama-lama di situ, sambil nyanyi pula.

Kalau pengamennya yang dateng rapi, main musiknya enak, suaranya empuk, bawain lagu yang kamu suka, bagaimana? Wah, kalo gitu, saya dengerin ustadz. Saya biarin dia nyanyi sampai habis. Lama pun nggak masalah. Kalau perlu saya suruh nyanyi lagi. Nyanyi sampai sealbum pun saya rela. Kalau pengamen tadi saya kasih 500, yang ini 10.000 juga berani, ustadz.

Dikirim pada 05 November 2011 di Tausiah

dakwatuna.com - Sejatinya kehidupan kita adalah saling pandang memandang satu sama lain dalam lingkup interaksi sesama manusia (ust. Sultan Hadi). Dari interaksi tersebutlah kita saling bercermin, kemudian kita mengambil suatu yang bermanfaat, walau kadang sesuatu yang negatif tak bisa kita tangkis, karena bagaimanapun syaitan tidak akan tinggal diam ketika melihat Hamba Allah yang menuai kebaikan. Dalam interaksi inilah syaitan mencoba untuk membisikkan ke dalam diri manusia, agar manusia iri terhadap apa yang dimiliki lawan pandangnya.
Sifat iri pasti akan menghampiri Anda kemudian membuat gelisah, lantas beruntunglah ketika ia mampu menyikapi atau mengolah rasa gelisah itu menjadi sesuatu yang berfaedah bagi dirinya, sebaliknya kerugianlah yang ia dapatkan manakala rasa galau tersebut ia tempatkan pada posisi yang tidak semestinya, sehingga bercampur polusi yang ditebarkan oleh syaitan hingga berujung pada dosa.

Dikirim pada 18 Juli 2011 di Tausiah
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Hamba Allah yang selalu berusaha untuk tetap istiqomah.... Biarlah Allah saja yang menyemangati kita sehingga tanpa sadar setiap peristiwa menjadi teguran atas kemalasan kita. Cukuplah Allah saja yang memelihara ketekunan kita karena perhatian manusia menghanyutkan keikhlasan. Semoga Allah menjadikan kita pribadi bermakna. Saat berbaur menyemangati yang lain... Saat sendiri menguatkan dirinya sendiri... Dan Ketika Harus ada perpisahan ku ingin kelak ketika kalian mendengar orang lain menyebut namaku kalian akan tersenyum sambil berkata owh I see :) More About me

Page
BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 122.572 kali


connect with ABATASA